Jayapura – Kabar duka menyelimuti dunia kesehatan di Kota Jayapura, Papua. Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura, dr. Daisy C. Urbinas, meninggal dunia pada Minggu (22/3/2026) sekitar pukul 11.00 WIT di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD Abepura. Kepergian sosok dokter sekaligus pemimpin yang dikenal penuh dedikasi ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, serta masyarakat yang selama ini mengenalnya sebagai figur yang mengabdikan hidupnya untuk pelayanan kesehatan.
Informasi wafatnya dr. Daisy dikonfirmasi langsung oleh Wakil Direktur RSUD Abepura, Petrus Benyamin Pepuho, kepada awak media. Dalam keterangannya, ia menyampaikan bahwa almarhumah sempat menjalani perawatan intensif sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir akibat komplikasi penyakit gula darah tinggi yang dideritanya.
“Almarhumah meninggal dunia di ruang ICU RSUD Abepura setelah menjalani perawatan. Kami semua sangat kehilangan sosok pemimpin yang penuh dedikasi,” ujar Petrus dengan nada penuh duka.
Kepergian dr. Daisy tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarga besar RSUD Abepura, tetapi juga bagi masyarakat luas di Kota Jayapura. Selama memimpin rumah sakit tersebut, ia dikenal sebagai sosok yang memiliki komitmen tinggi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Berbagai upaya perbaikan sistem pelayanan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga pengembangan fasilitas rumah sakit menjadi bagian dari kerja keras yang ia lakukan selama menjabat sebagai direktur.
Bagi para tenaga medis dan pegawai rumah sakit, dr. Daisy bukan sekadar pimpinan. Ia dikenal sebagai figur yang mampu membangun suasana kerja yang hangat dan penuh kekeluargaan. Sikapnya yang ramah, rendah hati, serta mudah bergaul membuatnya sangat dihormati oleh seluruh staf, mulai dari tenaga medis hingga pegawai administrasi.
Perempuan yang akrab disapa dr. Daisy ini lahir di Jayapura pada 31 Desember 1967. Sejak muda, ia telah menaruh perhatian besar pada dunia kesehatan dan memilih jalan pengabdian sebagai seorang dokter. Komitmennya terhadap pelayanan kesehatan terus ia tunjukkan sepanjang perjalanan kariernya.
Perjalanan pengabdiannya di RSUD Abepura dimulai pada tahun 2004. Saat itu, ia mengawali karier sebagai Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan status Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selama tiga bulan. Meski masih di tahap awal pengabdian, ia sudah menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjalankan tugasnya, terutama dalam memberikan pelayanan cepat dan tepat bagi pasien yang membutuhkan penanganan darurat.
Kerja keras, ketekunan, serta berbagai gagasan inovatif yang ia lakukan perlahan membawa perubahan di lingkungan kerja. Kemampuannya dalam memimpin tim medis, mengelola pelayanan, serta menghadapi berbagai tantangan di dunia kesehatan membuat kepercayaan terhadap dirinya semakin besar.
Seiring berjalannya waktu, kariernya terus berkembang. Ia dipercaya memegang berbagai tanggung jawab penting dalam manajemen rumah sakit hingga akhirnya terpilih sebagai orang nomor satu di RSUD Abepura. Kepercayaan tersebut tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses panjang yang dipenuhi kerja keras, integritas, serta dedikasi yang tinggi terhadap profesinya.
Di bawah kepemimpinannya, RSUD Abepura terus berupaya melakukan berbagai pembenahan dan pengembangan pelayanan kesehatan. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak pernah berhenti mencari cara untuk meningkatkan kualitas rumah sakit, baik dari segi pelayanan kepada pasien maupun peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.
Menurut Petrus Benyamin Pepuho, almarhumah merupakan figur pemimpin yang memiliki karakter kuat namun tetap mengedepankan pendekatan humanis dalam memimpin. Ia selalu menekankan pentingnya profesionalitas, kedisiplinan, serta kepatuhan terhadap regulasi dalam menjalankan tugas sebagai tenaga kesehatan.
“Almarhumah adalah sosok yang sangat mendedikasikan diri pada pelayanan. Beliau selalu menekankan pentingnya bekerja sesuai aturan dan memimpin dengan hati seorang ibu. Banyak staf yang merasa sangat terbantu dan termotivasi dengan kepemimpinannya,” ungkap Petrus.
Selain dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan disiplin, dr. Daisy juga dikenal sebagai sosok pekerja keras yang tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan. Ia memiliki kemampuan menganalisis persoalan secara sistematis dan mencari solusi yang tepat demi kemajuan rumah sakit.
Tak hanya itu, ia juga dikenal mampu melihat peluang dalam pengembangan rumah sakit, termasuk dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Baginya, tenaga kesehatan yang kompeten merupakan kunci utama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Selama memimpin RSUD Abepura, dr. Daisy juga dikenal aktif mendorong peningkatan kapasitas tenaga medis melalui berbagai pelatihan, pengembangan keterampilan, serta peningkatan standar pelayanan kesehatan. Ia percaya bahwa rumah sakit yang baik tidak hanya ditunjang oleh fasilitas yang memadai, tetapi juga oleh sumber daya manusia yang profesional dan berdedikasi.
Di mata rekan-rekannya, dr. Daisy merupakan pribadi yang sederhana dan penuh kepedulian. Ia tidak segan mendengarkan masukan dari staf maupun pasien, bahkan sering turun langsung melihat kondisi pelayanan di berbagai unit rumah sakit.
Sikapnya yang terbuka dan penuh empati membuat banyak orang merasa nyaman bekerja dan berkomunikasi dengannya. Bagi sebagian staf, ia bahkan dianggap sebagai sosok ibu yang selalu memberikan dukungan dan motivasi dalam bekerja.
Kepergian dr. Daisy C. Urbinas tentu meninggalkan kesedihan mendalam bagi banyak pihak. Namun dedikasi, pengabdian, serta berbagai kontribusi yang telah ia berikan bagi dunia kesehatan di Jayapura akan selalu dikenang.
Jejak pengabdiannya sebagai dokter dan pemimpin yang tulus dalam melayani masyarakat akan menjadi inspirasi bagi generasi tenaga kesehatan berikutnya untuk terus melanjutkan perjuangan dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Kini, di usia 58 tahun, dr. Daisy telah berpulang. Meski raganya telah tiada, namun semangat pengabdian, ketulusan hati, serta dedikasi yang ia tunjukkan selama hidupnya akan tetap hidup dalam kenangan keluarga, rekan kerja, serta masyarakat yang pernah merasakan manfaat dari pengabdiannya.
