MAKASSAR — Pergantian pucuk pimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menjadi momentum penting untuk menghadirkan wajah kepolisian yang semakin dekat dengan rakyat, terbuka terhadap kritik, tegas dalam penegakan hukum, serta adil dalam membangun kemitraan dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk insan pers.
Tokoh masyarakat sekaligus Pimpinan Umum Media Suaratipikorhamtv, Ferwel, menyampaikan ucapan selamat kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto yang dipercaya mengemban amanah sebagai Kapolri. Di saat yang sama, Ferwel menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo atas pengabdian dan dedikasinya selama memimpin institusi Polri. Ucapan tersebut disampaikan di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (3/10/2026).
Ferwel menilai, amanah sebagai Kapolri bukan sekadar kehormatan dan jabatan strategis, melainkan tanggung jawab besar yang dipertaruhkan di hadapan masyarakat Indonesia. Jutaan rakyat berharap Polri benar-benar hadir sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat, bukan hanya sebagai institusi yang terlihat ketika terjadi persoalan.
“Selamat kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Amanah ini sangat besar. Rakyat tidak hanya membutuhkan polisi yang tegas, tetapi juga polisi yang mau mendengar, mau turun ke lapangan, mau menerima kritik dan mampu memberikan rasa keadilan,” ujar Ferwel.
Menurutnya, ukuran keberhasilan kepemimpinan Polri bukan hanya dapat dilihat dari banyaknya program, apel, kegiatan seremonial maupun pernyataan resmi. Ukuran yang paling nyata adalah ketika masyarakat datang ke kantor polisi dan mendapatkan pelayanan yang cepat, ketika warga membutuhkan perlindungan dan polisi hadir, serta ketika masyarakat memperoleh kepastian hukum tanpa merasa dibeda-bedakan.
“Rakyat ingin melihat Polri yang hadir ketika mereka membutuhkan. Bukan sekadar hadir di atas panggung, tetapi hadir di tengah persoalan masyarakat,” tegasnya. Kapolri Baru Diminta Berani Benahi Kemitraan Media
Ferwel secara khusus menitipkan pesan kepada Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengenai hubungan Polri dengan media online di seluruh Indonesia.
Ia meminta Kapolri baru memberikan perhatian serius terhadap pola kemitraan komunikasi publik di lingkungan Mabes Polri, Polda hingga Polres. Menurutnya, jangan sampai media online yang setiap hari bekerja menyampaikan informasi kepada masyarakat justru diperlakukan sebagai anak tiri.
“Bapak Kapolri, kami menyampaikan ini secara terbuka. Jangan anak tirikan media online. Jangan hanya media tertentu yang dianggap penting, sementara media online di daerah yang juga bekerja keras memberikan informasi kepada masyarakat justru terpinggirkan,” kata Ferwel.
Ia menegaskan, media online bukan sekadar tempat memasang berita. Di balik sebuah pemberitaan terdapat wartawan yang bekerja, biaya operasional, proses peliputan, verifikasi informasi dan tanggung jawab kepada pembaca.
Karena itu, Ferwel berharap seluruh jajaran Polri membangun kemitraan pers secara lebih terbuka, proporsional dan transparan. Media online di seluruh Indonesia, baik yang berada di kota besar maupun daerah, menurutnya layak mendapatkan kesempatan yang adil sepanjang memenuhi ketentuan dan menjalankan tugas jurnalistik secara profesional.
“Kami tidak meminta keistimewaan. Kami meminta keadilan. Kalau memang ada anggaran komunikasi publik dan kemitraan media, maka pengelolaannya harus transparan, profesional dan tidak diskriminatif. Jangan sampai yang dekat saja yang mendapatkan ruang, sementara yang bekerja di lapangan justru dilupakan,” tegasnya.
Ferwel juga berharap Kapolri dapat memberikan arahan yang jelas kepada seluruh Kapolda dan Kapolres agar tidak terjadi praktik pilih kasih dalam membangun hubungan dengan media.
Menurutnya, media merupakan salah satu mata dan telinga masyarakat. Pers memiliki fungsi kontrol sosial sekaligus menjadi jembatan informasi antara institusi kepolisian dengan publik.
“Jangan alergi terhadap kritik media. Selama kritik itu disampaikan berdasarkan fakta dan kepentingan masyarakat, jadikan sebagai bahan evaluasi. Polri akan semakin kuat bukan karena hanya diberitakan baik, tetapi karena berani memperbaiki kekurangan ketika dikritik,” ujarnya Jangan Hanya Berganti Pemimpin, Tetapi Harus Ada Perubahan
Ferwel berharap pergantian Kapolri tidak berhenti pada pergantian figur. Masyarakat menginginkan adanya penyegaran, pembenahan dan peningkatan kualitas pelayanan kepolisian.
Ia meminta kepemimpinan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mampu melanjutkan berbagai hal positif yang telah dibangun sebelumnya, sekaligus berani melakukan evaluasi terhadap kebijakan maupun pola kerja yang masih dinilai belum maksimal.
“Pergantian pemimpin harus membawa energi baru. Yang sudah baik dilanjutkan, yang masih kurang diperbaiki, dan yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat harus berani dievaluasi,” katanya. Ferwel juga menyampaikan penghargaan kepada Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang telah menjalankan tugas sebagai Kapolri.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Jenderal Listyo Sigit Prabowo atas pengabdian dan dedikasinya. Setiap pemimpin memiliki tantangan dan masa pengabdiannya. Kini tongkat estafet telah berpindah, dan kami berharap kepemimpinan baru mampu membawa Polri semakin dipercaya masyarakat,” ungkapnya. Pesan dari Makassar
Dari Makassar, Ferwel menitipkan pesan sederhana namun tegas kepada Kapolri baru. Polri harus semakin dekat dengan rakyat. Polisi harus hadir ketika masyarakat membutuhkan. Penegakan hukum harus dilakukan secara profesional, transparan dan berkeadilan. Kritik harus didengar, bukan dihindari. Dan media harus diperlakukan sebagai mitra yang setara dalam membangun komunikasi publik.
“Bapak Kapolri Suyudi Ario Seto, rakyat tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Rakyat hanya ingin merasa aman, mendapatkan pelayanan yang baik, memperoleh kepastian hukum, dan diperlakukan secara adil. Begitu pula media online, kami hanya meminta ruang kemitraan yang adil dan tidak dianaktirikan,” tegas Ferwel.
Ia berharap Kapolri baru mampu membuktikan bahwa kekuatan Polri bukan terletak pada kewenangan semata, melainkan pada kepercayaan masyarakat.
“Jaga amanah. Jangan jauh dari rakyat. Jangan takut mendengar suara masyarakat. Jangan alergi terhadap kritik. Dan jangan biarkan media online di seluruh Indonesia merasa dianaktirikan. Karena kekuatan Polri yang sesungguhnya adalah ketika rakyat percaya, media dipercaya sebagai mitra, dan hukum benar-benar dirasakan keadilannya,” pungkas Ferwel.


















